Desa Dawuhan berada sekitar 5 km di sebelah barat alun-alun Kota Banyumas, dan namanya berasal dari kata "dawuan" dalam bahasa Sunda yang berarti tempat mengatur aliran air ke sawah dan ladang, lalu berubah menjadi "Dawuhan" seiring bercampurnya budaya Jawa dan Sunda di daerah itu; ada pula yang mengaitkan nama ini dengan dawuh atau perintah dari Adipati Mrapat, pendiri Banyumas, agar desa tersebut kelak dijadikan tempat pemakamannya. Desa ini memang terkenal sebagai kompleks makam Bupati Banyumas pertama, Raden Djoko Kahiman alias Adipati Mrapat, yang setiap tahun diziarahi warga sekaligus jadi ajang penjamasan pusaka-pusaka peninggalan Kyai Empu Ngali Besari seperti tombak dan keris, memakai air dari tiga sumur pasucen di Kalibening. Selain itu, Dawuhan juga punya Masjid Nurul Huda yang diperkirakan berdiri sekitar tahun 1870–1912 dan didirikan oleh Kiai Ali Muhibat, tokoh dari Gumelem yang menyebarkan Islam di wilayah yang dulu masih kental tradisi lokalnya. Karena warisan makam dan masjid ini, Dawuhan sekarang dikenal sebagai desa wisata budaya dan religi di Banyumas.